Raudhatul uqala pertemuan pertama

1. Raudhatul Uqala Wa Nuzhatul Fudhala

Al-Ustadz Usamah Mahri hafizhahullah

00:00 --:--

1. Intisari & Poin-Poin Utama Kajian

  • Keutamaan Akal sebagai Anugerah Terbesar: Akal adalah pemberian Allah yang paling utama bagi seorang hamba. Kesempurnaan agama dan akhlak seseorang sangat bergantung pada kesempurnaan akalnya.
  • Pembagian Akal (Dua Jenis Akal):
    • Akal Malthbu' (Akal Bawaan/Alami): Potensi dasar akal yang Allah ciptakan pada diri manusia.
    • Akal Masmu' (Akal yang Didengar/Diperoleh): Ilmu, hikmah, dan pengalaman yang diserap melalui pendengaran dan ilmu syar'i.

    Catatan: Akal bawaan tidak akan maksimal jika tidak dipupuk dengan ilmu dan hikmah (akal masmu'), sebagaimana benih tidak akan tumbuh tanpa air.

  • Makanan/Nutrisi Akal vs Makanan Jasad:
    • Makanan jasad adalah makanan dan minuman.
    • Makanan akal adalah hikmah dan ilmu.
    • Jika jasad mati karena kekurangan makanan, maka akal pun akan mati jika kehilangan nutrisi ilmu dan hikmah.
  • Sifat & Ciri Orang yang Berakal Cerdas (Al-'Aql Al-Labiib):
    • Selalu melakukan introspeksi diri (muhasabah).
    • Menjaga lisan, lebih banyak diam, dan berhati-hati dalam berbicara.
    • Menggunakan akalnya untuk menuntut ilmu yang bermanfaat bagi dunia dan akhirat.
    • Menjauhi majelis dan teman-teman yang jahil agar akalnya tidak terpengaruh menjadi tumpul.

2. Dalil-Dalil & Atsar yang Dibawakan

a. Riwayat Perkataan para Salaf & Ulama

Pernyataan Ibnu Al-Mubarok rahimahullah:

Ditanyakan kepada Abdullah bin Al-Mubarok: "Apakah sebaik-baik karunia yang diberikan kepada seseorang?" Beliau menjawab:

  1. Gharizatu 'Aql (Akal bawaan yang sehat).
  2. Jika tidak ada? Adab yang baik.
  3. Jika tidak ada? Saudara shalih yang memberi nasihat.
  4. Jika tidak ada? Diam yang lama.
  5. Jika tidak ada? Kematian yang disegerakan.

Pernyataan Al-Hasan Al-Basri rahimahullah:

مَا تَمَّ دِينُ عَبْدٍ قَطُّ حَتَّى يَتِمَّ عَقْلُهُ
"Tidaklah sempurna agama seorang hamba sama sekali hingga sempurna akalnya."

Pernyataan Syu'bah bin Al-Hajjaj rahimahullah:

عُقُولُنَا قَلِيلَةٌ، فَإِذَا جَلَسْنَا مَعَ مَنْ هُوَ أَقَلُّ عَقْلًا مِنَّا ذَهَبَ ذَلِكَ الْقَلِيلُ
"Akal kita ini sedikit. Apabila kita duduk bersama orang yang lebih sedikit akalnya dari kita, maka hilanglah akal yang sedikit tersebut."

b. Bait Syair Kitab yang Dikutip Imam Ibnu Hibban

Mengenai Jenis Akal (Malthbu' & Masmu'):

رأيتُ العقلَ نوعينِ : فمطبوعٌ ومسموعُ
ولا ينفعُ مسموعٌ : إذا لم يَكُ مطبوعُ
"Aku melihat akal itu ada dua jenis: Bawaan (malthbu') dan yang didengar (masmu'). Tidaklah bermanfaat apa yang didengar jika tidak ada akal bawaan yang sehat, sebagaimana sinar matahari tak berguna bagi mata yang buta."

Mengenai Akhlak Mulia dimulai dari Akal:

إنَّ المكارمَ أبوابٌ تصنَّفُ ... فالعقلُ أوَّلُها والصَّمتُ ثانيها
"Sesungguhnya kemuliaan akhlak itu memiliki pintu-pintu yang terbagi: Maka akal adalah pintu utamanya, dan diam adalah pintu keduanya..."